Hilangnya sesuatu yang dinamakan sahabat…
juga menghilangkan kehidupan kita, dan bagaimana cara kita memandang dunia ini. Musnahnya nyawa yang begitu menggelibat mengikat hari hari, membuat diri ini tercengang,
“dimana kau, kemarilah temani aku, aku sendiri tatap buasnya tawa mereka, aku takut, ini bukan hidupku! ini bukan aku! bahkan aku menangis karena sepi, tanpamu! kini kuberlari lari, dimana kau? jangan bersembunyi, aku butuh pelukanmu, lindungi aku!”
Hampa. Selalu pagi aku bangun, mengharap akan datang hari baru yang lebih indah, tunggu seorang sepertimu datang temui aku. Berusaha tersenyum seakan aku periang yang kuasa berdiri diatas sunyi senyap hari tanpa nyanyianmu. Tapi tetap, semua berlalu sampai aku kembali ke dunia mimpi. Matahari telah pulang ke sarangnya. Namun tak kunjung kutemukan pengisi kosongnya jiwaku.
Tak ada sosok yang mampu pahami apa tujuan dan semua inginku. Aku diperbuat layaknya orang dungu yang kebingungan untuk jadi diriku sendiri. Tolong terima aku apa adanya, jika diri ini telah ganggumu, aku tak peduli, inilah aku ! terimalah perbedaan, kita semua tak sama bukan?
Baik, lupakan itu. Masa sulit ini akan terlampaui. Maka, maklumilah. Biarkan semua berjalan sebagaimana air itu mengalir.